Pembelajaran Mancanegara bagi Upaya Revitalisasi MBG Indonesia Salah satu aspek paling menentukan dalam keberhasilan program makan sekolah bukan hanya besarnya anggaran atau jumlah penerima manfaat, melainkan bagaimana makanan tersebut disediakan. Pengalaman mancanegara menunjukkan bahwa rancangan skema penyediaan makanan sangat memengaruhi kualitas gizi, efisiensi anggaran, ketepatan sasaran, keterlibatan masyarakat, hingga keberlanjutan program dalam jangka panjang.
Dalam praktik global, setidaknya terdapat tiga model utama penyediaan makanan sekolah, yaitu: (1) dapur terpusat (centralized kitchen), (2) dapur berbasis sekolah atau komunitas (school/community-based kitchen), dan (3) bantuan berbasis tunai atau voucher (cash/voucher-based assistance). Banyak negara pada akhirnya menggunakan model hibrida sesuai keadaan geografis, kemampuan fiskal, dan tujuan kebijakan masing-masing (World Food Programme, 2022; FAO dan WFP, 2020).
Model Dapur Terpusat (Centralized Kitchen)
Pada model ini, makanan diproduksi dalam skala besar melalui dapur pusat, kemudian dibagikan ke sekolah penerima. Pendekatan ini biasanya digunakan pada wilayah perkotaan padat dengan jumlah siswa besar dan jaringan distribusi relatif baik.
Kelebihan utama model ini adalah (i) efisiensi skala produksi, (ii) standarisasi kualitas gizi, (iii) kemudahan pengawasan, (iv) serta kapasitas penyediaan dalam jumlah besar.
Model seperti ini berkembang di beberapa kota besar di India melalui Akshaya Patra Foundation yang mengoperasikan dapur berskala industri dan memasok jutaan makanan sekolah setiap hari. Pendekatan tersebut banyak dikaji sebagai contoh efisiensi logistik pada program makan sekolah berskala besar (Drze dan Goyal, 2003; Singh dan Fernandes, 2018).
